andragogia vol 1/1 #5

MANAJEMEN PEMBELAJARAN PENGALAMAN LAPANGAN BIDANG STUDI MATEMATIKA KELOMPOK BELAJAR PAKET A NUSA INDAH DI KECAMATAN BANDAR, KABUPATEN BATANG

Patria Puspawati

Abstrak
Kelompok Belajar Paket A Nusa Indah, Kabupaten Batang adalah kelompok belajar Paket A di Jawa Tengah yang menggunakan metode pembelajaran pengalaman lapangan pada bidang studi matematika. Metode pembelajaran pengalaman lapangan digunakan supaya peserta didik memperoleh pemahaman matematikanya melalui pengalaman nyata yang dipraktikkannya. Penggunaan metode belajar pengalaman lapangan menuntut kesiapan dan kemampuan penyelenggara serta pendidik dalam menyiapkan dan melaksanakan metode tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi obyektif perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran pengalaman lapangan bidang studi matematika di kelompok belajar Paket A Nusa Indah, Kabupaten Batang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan latar alami. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Adapun validitas data menggunakan triangulasi sumber dan metode. Analisis data menggunakan deskriptif kualitatif dengan pengamatan tiap-tiap aspek.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran pengalaman lapangan bidang studi matematika di kelompok belajar paket A Nusa Indah, Kabupaten Batang telah dilaksanakan sesuai tahapan yang ditetapkan, yaitu : 1) mengadakan rapat, 2) menyusun rencana kebutuhan, 3) menyusun langkah-langkah pelaksanaan, dan 4) membagi tugas sesuai peran. Pelaksanaan pembelajaran pengalaman lapangan juga telah dilaksanakan sesuai langkah-langkah mulai dari : 1) kegiatan pendahuluan, 2) penjelasan pokok bahasan dan tujuan, 3) penjajagan awal, 4) pengelompokan peserta didik, 5) pembagian media, 6) penjelasan cara pelaksanaan, 7) pelaksanaan praktik pengalaman lapangan, 8) pembuatan laporan, 9) kesimpulan, 10) penguatan dan penegasan. Evaluasi pembelajaran pengalaman lapangan diperoleh hasil bahwa peserta didik menunjukkan sikap senang dan tertarik dengan metode pembelajaran pengalaman lapangan. Penggunaan metode tersebut memiliki kelemahan dan kekuatan. Dari evaluasi tersebut ditemukan adanya ketidaksiapan pendidik dalam hal penyiapan media belajar yang merupakan kebutuhan mutlak pembelajaran pengalaman lapangan.
Penyelenggara dan pendidik bidang studi Matematika yang melaksanakan pembelajaran pengalaman lapangan hendaknya memanfaatkan hasil evaluasi yang telah dilakukan, sehingga lebih memperhatikan dan menyiapkan media pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan praktik pengalaman lapangan. Disamping itu perlu adanya ruang penyimpanan media belajar di tempat berlangsungnya pembelajaran.
Kata Kunci : Manajemen, Pembelajaran Pengalaman Lapangan Bidang Studi Matematika, Program Paket A.

Posted in volume 1 nomor 1 | Leave a comment

andragogia vol1/1 #4

MENGEMBANGKAN PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN DI MASYARAKAT

Sony Heru Priyanto
Guru Besar Fakultas Pertanian & Bisnis UKSW Salatiga

Abstrak
Menurut Shumpeter (1934), Enterprenuership is driving force behind economic growth. Kewirausahaan merupakan komponen vital dalam pembangunan ekonomi. Jika Indonesia ingin maju seperti negara lain, maka pembangunan kewirausahaan harus dimulai dari sekarang. Untuk mengembangkan kewirausahaan, perlu disusun kurikulum yang memadai, mulai dari pendidikan usia dini sampai Perguruan Tinggi. Prinsipnya adalah mereka harus dibuat tertarik dan termotivasi, kedua mereka harus bisa dibuat melihat adanya kesempatan untuk bisnis yang menguntungkan (opportunity factors), ketiga, mereka harus memiliki beberapa keahlian seperti social skill, indutrial skill, organizasional skill dan strategic skill. Nama program yang bisa dikembangkan seperti Entrepreneurship Orientation and Awareness Programs, New Enterprise Creation Programs dan Survival and Growth Programs for Existing Entrepreneurs.

Posted in volume 1 nomor 1 | Leave a comment

andragogia vol1/1 #3

PENDIDIKAN UNTUK PENGEMBANGAN BERKELANJUTAN (EDUCATION for SUSTAINABLE DEVELOPMENT) DALAM PERSPEKTIF PNFI
Implementasi EfSD pada Program PNFI

Budi Sri Hastuti
P2PNFI Reg II Semarang

Abstrak
Pengembangan berkelanjutan (sustainable development) adalah sebuah perubahan, perkembangan atau pengembangan meliputi kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan lingkungan secara simultan, berkesinambungan sehingga menghasilkan kondisi tentram, aman, nyaman baik di masa sekarang maupun yang akan datang. Sedangkan Pendidikan untuk pengembangan berkelanjutan (Education for Sustainable Development selanjutnya disebut EfSD) adalah sebuah paradigma baru dibidang pendidikan yakni pendidikan yang memberi kesadaran dan kemampuan kepada semua orang utamanya generasi muda untuk berkontribusi secara nyata bagi pengembangan berkelanjutan. Pendidikan untuk pengembangan berkelanjutan merupakan hal yang sangat penting bagi semua bangsa (dunia) dan tidak bisa ditunda lagi. Tanggungjawab setiap bangsa untuk melakukan upaya penyadaran dan membangun sebuah komunitas bangsa yang mendukung bagi pengembangan berkelanjutan. Tema ini sangat penting karena menyisipkan muatan EfSD kedalam program-program PNFI merupakan kebijakan baru di bidang PNFI. Kebijakan baru ini harus terus disosialisasikan kepada segenap jajaran birokrasi di lingkungan PNFI baik pusat maupun daerah, stake holder, akademisi, lembaga PNFI, organisasi mitra, praktisi dan tokoh masyarakat. Melalui tulisan ini, diharapkan dapat tercipta pemahaman yang memadai khususnya bagi tenaga pendidik dan kependidikan PNFI tentang konsep EfSD dan bagaimana implementasinya dalam penyelenggaraan program-program PNFI.

Posted in volume 1 nomor 1 | Leave a comment

andragogia vol1/1 #2

ANALISIS SISTEMIK PENYELENGGARAAN TAMAN BACAAN MASYARAKAT DI KABUPATEN SEMARANG

Melati Indri Hapsari
P2PNFI Regional II Semarang

Abstrak
Pengembangan budaya baca dalam masyarakat tidak hanya ditentukan oleh keinginan dan sikap masyarakat terhadap bahan-bahan bacaan, tetapi juga ditentukan oleh ketersediaan dan kemudahan akses terhadap bahan-bahan bacaan. Ketersediaan bahan-bahan bacaan berarti tersedianya bahan-bahan bacaan yang memenuhi, kebutuhan masyarakat. Sedangkan kemudahan akses adalah tersedianya saran dan prasarana dimana masyarakat dapat dengan mudah memperoleh bahan bacaan dan informasi tentang bahan bacaan. TBM yang ada belum dimanfaatkan secara maksimal dan optimal oleh masyarakat. Sebagian TBM yang kurang diminati oleh warga belajar lebih pada karena pengelolaan yang kurang maksimal dan kurangnya motivasi masyarakat untuk membaca. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan eksplorasi konsep dan filosofi Taman Bacaan Masyarakat yang telah ada di Kabupaten Semarang, melakukan eksplorasi penyelenggaraan Taman Bacaan Masyarakat di Kabupaten Semarang, melakukan telaah kritis penyelenggaraan Taman Bacaan Masyarakat di Kabupaten Semarang.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif naturalistik dengan jenis penelitian eksploratif. Subyek penelitian adalah tokoh-tokoh kunci dalam penyelenggaraan Taman Bacaan Masyarakat. Data terutama dikumpulkan dengan observasi, yang didukung oleh wawancara mendalam dan studi dokumentasi.Analisis data yang digunakan adalah analisis model interaktif yang meliputi menyusun transcript hasil wawancara mendalam, melakukan reduksi data, memberikan kode, pengelompokan data, display data, verifikasi data, hasil studi dokumentasi. Kriteria keabsahan data dengan menggunakan kredibilitas, dependabilitas, konfirmabilitas, transferabilitas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut. Taman Bacaan Masyarakat adalah lembaga yang menyediakan berbagai jenis bahan belajar yang dibutuhkan masyarakat. Untuk pemahaman konsep tidak semua penyelenggara dan pengelola TBM di Kabupaten Semarang ini paham betul konsep dan tujuan mendirikan TBM.
Mereka cenderung menjadikan TBM sebagai program pelengkap saja di lembaga penyelenggara misalnya PKBM. TBM yang ada beranekaragam keberadaannya, tergantung daerah setempat dan kondisi dana yang ada.Komponen-komponen penyelenggaraan TBM terutama terdiri dari pola penyelenggaraan, sistem evaluasi, pengelola, dukungan, jaringan kerja sama, motivasi, pembiayaan, koleksi bahan bacaan. Semua komponen tersebut kondisinya berbeda-beda tergantung dari lembaga penyelenggara masing-masing. Dalam pelaksanaannya TBM yang ada mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kekurangan dan terutama kritik yang banyak dilontarkan lebih berkaitan dengan keseriusan penyelenggara dalam menyelenggarakan dan mengelola TBM agar lebih profesional.
Profesionalisme tersebut berkaitan dengan pengelola TBM dalam mengelola dan beranekaragamnya bahan bacaan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kelebihan TBM yang ada terutama bagi TBM yang berlokasi jauh dari perkotaan memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan akan bahan bacaan.
Kata kunci: analisis, taman bacaan masyarakat (TBM), Semarang.

Posted in volume 1 nomor 1 | Leave a comment

andragogia vol1/1 #1

MODEL PENGELOLAAN PEMBELAJARAN PASCA KEAKSARAAN MELALUI PENGUATAN PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP BAGI UPAYA KEBERDAYAAN PEREMPUAN PEDESAAN
(Studi Pemberdayaan Perempuan Pedesaan di Kampung Cibago, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang)

Dr. Ade Kusmiadi
P2PNFI Regional II Semarang

Abstrak
Pendidikan keaksaraan dipandang memiliki daya ungkit bagi pembangunan masyarakat dan kehidupan ekonomi (Coombs, 1973; Bhola, 1994) Dengan demikian, pendidikan keaksaraan memiliki dimensi pemberdayaan seperti yang dikemukakan Kindervatter (1979). Pendidikan keaksaraan yang dipadukan dengan pendidikan kecakapan hidup yang disampaikan menggunakan bahasa ibu sehingga sesuai dengan konteks lokal (Jalal, 2005; Sasasoka, 1986), terbukti cukup efektif.
Model pendidikan keaksaraan terpadu yang ada dan dikembangkan selama perlu disempurnakan mengingat belum memberikan hasil yang memuaskan. Model koseptual yang dikembangkan mengacu pada proses pendidikan orang dewasa dan bersifat partisipatoris, dengan berlandaskan pada potensi sumber daya alam lokal, dan memperhatikan aspek sosial-budaya lokal khususnya bahasa ibu. Model konseptual tersebut selanjutnya dikaji oleh akademisi dan praktisi pendidikan keaksaraan. Model konseptual teruji tersebut selanjutnya diujicoba dalam situasi nyata yakni di Kampung Cibago
Desa Mayang Kecamatan Cisalak Kabupaten Subang. Hasil uji-coba model menunjukkan pendidikan keaksaraan terpadu yang menggunakan bahasa ibu mampu meningkatkan kecakapan keaksaraan warga belajar sehingga terjadi peningkatan kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Di samping itu, pembelajaran kecakapan hidup berupa keterampilan memberi nilai tambah pada potensi sumber daya alam lokal juga meningkat. Penggunaan nara sumber teknis lokal juga memungkinkan kegiatan pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di tempat belajar. Sedangkan dalam menerapkan model pengelolaan pendidikan keaksaraan terpadu ini sangat penting untuk memperhatikan homogenitas masyarakat sehingga bahasa ibu dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pembelajaran sekaligus memberikan bahan bacaan untuk memelihara keaksaraan yang sudah dikuasai.
Pendidikan pasca keaksaraan terpadu yang menggunakan bahasa
ibu terbukti mampu menjaga dan meningkatkan kecakapan keaksaraan tapi juga memungkinkan peningkatan taraf hidup. Pembelajaran dalam kelompok mendorong peningkatan tingkat keberdayaan masyarakat. Hal lain yang penting diperhatikan adalah adanya dukungan kelembagaan dari dinas/instansi terkait
untuk penyelenggaraan pendidikan pasca-keaksaraan.

Kata kunci: keaksaraan, kecakapan hidup, perempuan, pedesaan

Posted in volume 1 nomor 1 | Leave a comment